Tahun belakangan ini, buat temen-temen di KKKS, tentunya sibuk sekali sama audit dari berbagai macam pihak. BPK, BPKP dan BP Migas itu trio wajib yg datang secara berkala tentunya. Belum lagi kalau ketambahan sama DJP.

Dengan tidak mengecilkan keribetin dari external auditor yg ditunjuk oleh Head Office masing-2, ditambah auditor partner Joint Venture (kalo ada) dan segala macem auditor internal…… trio auditor negara itu yg paling menimbulkan efek deg-deg an (setidaknya buat saya :) )

apalagi setelah Men ESDM bikin Permen no 22 nya itu, makin kumplit lah senjata auditor-2 itu menelanjangi KKKS, (selengkapnya baca artikel ttg negative list). Kalau minjem istilahnya salah satu KaDiv BP Migas, “tinggal masuk ke sistem nya KKKS, search “golf”, extract … jadi satu temuan,” (bener juga lho)
Tadinya, saya sih seneng sama Permen 22 ini,  setidaknya ada ‘rem’ lah dari negara untuk urusan cost recovery ini. Tapi setelah gelombang auditor dateng dengan permasalahan serupa yang diangkat, akhirnya kerasa juga sih … bahwa kita ini butuh juga juknis pelaksanaan / penerapan permen ini di KKKS, semacam PTK lah kalo versi BP Migas (Pedoman Tata Kerja).

Diharapkan, juknis itu akan jadi jembatan debat nggak jelas yang kadang berlarut-larut antara KKKS dengan auditor-auditor negara. KKKS nya biar nggak nyeleneh-nyeleneh bikin alasan, auditornya pun biar nggak ngantem kromo semua kegiatan.

Syukur kalo cepet keluar itu PTK atau Juknis atau apalah. Soalnya tahun 2009 juga udah ditengah-tengah, bentar lagi kelar ….. abis itu auditor bakal masuk (semoga dengan pemahaman yang lebih baik). Tahun 2008 sih enak, KKKS bisa ngeles-ngeles pake tanggal Permen yang ditengah tahun itu……

**kembali berdoa, moga-2 semuanya lancar, bagi negara, bagi auditor, bagi kkks dan bagi semuanya**